ALT_IMG

18 Alasan Mengapa Muslimah Lebih Cantik Memakai Jilbab

Dalil mengenai wajibnya mengenakan pakaian bahagian atas (khimar/tudung) adalah Firman Allah, “Hendaklah mereka menutupkan kain tudung ke dada mereka” [QS An-Nur (24):31]. ......Dan Hadis Rasulullah riwayat dari Bazzar dan At-Termizi menjelaskan,... Readmore...

ALT_IMG

LANGKAH SETAN MENELANJANGI PARA WANITA

Bismillahir-Rahmanir-Rahim ... Setan dalam menggoda manusia memiliki berbagai macam strategi, dan yang sering dipakai adalah dengan memanfaatkan hawa nafsu, yang memang memiliki kecenderungan mengajak kepada keburukan (ammaratun bis su'). Setan tahu persis ... Readmore..

Alt img

Debat 1 Da’i VS 20 Pendeta Dihadiri 10.000 Orang = 144 Masuk Islam, Termasuk 3 Pendeta

Kabar gembira datang dari Ethiopia seputar perkembangan dakwah terbaru di sana Allahu Akbar.Direktur pelaksana Dewan Internasional Untuk Pengenalan Islam (DIUPI), yang merupakan ... Readmore...

ALT_IMG

Dik, Jadilah engkau...

Dik… Jadilah Layaknya A’inul Mardiyah. Dik…jadilah layaknya Ibunda Maryam yang senantiasa menjaga kesucian dirinya. Agar kau menajadi panutan bagi wanita kebanyakan. Dik…jadilah layaknya Khadijah Alkubra ... Readmore...

ALT_IMG

Untuk Hati yang tengah Tersakiti

Saat memandangi hari.. Semakin hening dan makin tunduk merenungi. Setiap episode yang terjadi dalam hidupku, sudah begitu banyak warna yang terlukiskan, dan begitu banyak pula noda hitam mengotorinya. Readmore...

Showing posts with label cinta. Show all posts
Showing posts with label cinta. Show all posts
Saturday, January 5, 2013

Ambillah Wanita Sholehah Untuk Menjadi Istri Sholehah Disisimu

0 comments
Betapa banyaknya di antara wanita yang berparas cantik namun bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah, baik penampilan, tingkah laku beserta sekalian keburukan akan gerangan dirinya. sehingga mereka cenderung meresahkan hatimu, memporak porandakan rumah tangga dan anak-anakmu hingga terbentuklah rumah tangga yang jahil, tidak bermoral lagi tidak bersyari’at. Sedang parasnya itu tiadalah abadi lagi akan menua termakan usia, dan akhlak, aqidah lagi keimanannya itulah yang baka adanya baik dunia maupun akhirat.

Jikalaupun ada wanita sholehah yang berparas cantik sedang kamu beroleh akan gerangan dirinya niscaya itulah yang lebih baik bagimu, sedang ia amatlah menentramkan hatimu, memperindah segala yang buruk lagi senantiasa memberi kemaslahatan dalam kehidupan rumah tanggamu.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam Bersabda kepada Umar ibnul Khaththab Radhiallahu ‘anhu:

“Maukah aku beritakan kepadamu tentang sebaik-baik perbendaharaan seorang lelaki, yaitu istri shalihah yang bila dipandang akan menyenangkannya, bila diperintah akan mentaatinya, dan bila ia pergi si istri ini akan menjaga dirinya.” (HR. Abu Dawud no. 1417)

Ingatlah ..bahwasanya kebaikanmu akan membaikkan dirinya, sedang kebaikannya akan membaikkan dirimu jua. Jikalaulah engkau hendak beroleh Istri sholehah seumpama yang engkau impikan, maka berbaik-baiklah kamu dengan sekalian gerangan atas dirimu, baik akhlak, aqidah, kesucian lagi kemuliaanmu, Insha ALLAH niscaya engkau akan beroleh apa-apa yang engkau kehendaki dari sisi ALLAH.

Dan jikalaupun engkau adalah seorang laki-laki yang sholeh dan beroleh istri yang jahil maka janganlah engkau mencercanya, barang kali ALLAH hendak mensucikan dirinya besertamu hingga ia berbaik-baik diri dalam hal akhlak, aqidah lagi keimanannya disisimu. ALLAH mengetahui apa-apa yang ada pada geranganmu sedang kamu tiada mengetahui atas apa-apa yang ada pada gerangan ALLAH dengan sekalian barang kehendak-Nya yang mulia. Dan ingatlah..bahwasanya ALLAH Subhana wa Ta’ala Berfirman :

Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga). An-Nuur : 26

Maka percayalah wahai akhi, bahwasanya jika engkau adalah seorang yang baik, niscaya engkau akan beroleh istri yang baik pula, sedang bagimu wahai ukhti..jika engkau adalah seorang yang baik niscaya laki-laki yang baik pulalah yang selayaknya bagimu.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Empat perkara termasuk dari kebahagiaan, yaitu wanita (istri) yang shalihah, tempat tinggal yang luas/ lapang, tetangga yang shalih, dan tunggangan (kendaraan) yang nyaman. Dan empat perkara yang merupakan kesengsaraan yaitu tetangga yang jelek, istri yang jahil (tidak shalihah), kendaraan yang tidak nyaman, dan tempat tinggal yang sempit.” (HR. Ibnu Hibban)

Namun demikian di antara hatimu wahai para ikhwan, adalah lebih menyukai untuk terperdaya akan kecantikan wajah-wajah mereka sedang engkau lebih cenderung bergelut dengan hawa nafsumu yang buta lagi tiada mengetahui. Sekali-kali janganlah demikian, melainkan ambillah ia karena baiknya dirimu yang ingin membaikkannya disisimu. Sesungguhnya sebaik-baik rupa atas mereka adalah seburuk-buruk tipu daya syaitan bagimu yang hendak menyesatkanmu sedang kamu tiada mengetahui.

Alangkah betapa beruntungnya kamu wahai para akhi yang beroleh istri shalehah, sedang ia menentramkan hatimu, menjaga lisannya dari aib-aibmu, sedang ia menjaga kesucian dirinya lagi rumah tanggamu, dan jika engkau memberinya perintah niscaya dia mentaatinya.

Berkata Al-Qadhi ‘Iyyadh rahimahullah: “Tatkala Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan kepada para sahabatnya bahwa tidak berdosa mereka mengumpulkan harta selama mereka menunaikan zakatnya, beliau memandang perlunya memberi kabar gembira kepada mereka dengan menganjurkan mereka kepada apa yang lebih baik dan lebih kekal yaitu istri yang shalihah yang cantik (lahir batinnya) karena ia akan selalu bersamamu menemanimu. “Bila engkau pandang menyenangkanmu, ia tunaikan kebutuhanmu bila engkau membutuhkannya. Engkau dapat bermusyawarah dengannya dalam perkara yang dapat membantumu dan ia akan menjaga rahasiamu. Engkau dapat meminta bantuannya dalam keperluan-keperluanmu, ia mentaati perintahmu dan bila engkau meninggalkannya ia akan menjaga hartamu dan memelihara/mengasuh anak-anakmu.”

Maka wahai akhi, walau gerangan dirinya hanya 1 di antara seribu..seumpama mutiara didasar laut maka selamilah ia niscaya keindahan cahayanya akan memancar lagi menerangi dirimu walau engkau belum hampir lagi beroleh akan gerangan dirinya. Hingga mutiara itu akan menjadikan indah hatimu lagi rumah tanggamu, inilah suatu keindahan abadi bukan hanya didunia, melainkan di negeri akhirat kelak. maka akhi..maukah engkau beroleh keindahan itu??
Continue reading →
Friday, January 4, 2013

Ada 8 Nasihat Untuk Para Lelaki

0 comments

Ada 8 nasihat untuk para lelaki, yang menurut saya cukup bagus juga, inilah ke 8 nasihat itu:

1. Kakek berkata, hargai istrimu sebagaimana engkau menghargai ibumu, sebab istrimu juga seorang ibu dari anak-anakmu.

2. Jika marah boleh tidak berbicara dengan istrimu, tapi jangan bertengkar dengannya (membentaknya, mengatainya, memukulnya).

3. Jantung rumah adalah seorang istri. Jika hati istri mu
tidak bahagia, maka seisi rumah akan tampak seperti neraka (tidak ada canda tawa, manja, perhatian). Maka sayangi istrimu agar dia bahagia dan kau akan merasa seperti di surga.

4. Besar atau kecil gajimu, seorang istri tetap ingin diperhatikan. Dengan begitu, maka istrimu akan selalu menyambutmu pulang dengan kasih sayang.

5. 2 orang yang tinggal 1 atap (menikah) tidak perlu gengsi, bertingkah, siapa menang siapa kalah. Karena keduanya bukan untuk bertanding melainkan teman hidup selamanya.

6. Di luar banyak wanita idaman melebihi istrimu. Namun mereka mencintaimu atas dasar apa yang kamu punya sekarang, bukan apa adanya dirimu. Saat kamu menemukan masa sulit, maka wanita tersebut akan meninggalkanmu dan punya pria idaman lain di belakangmu.

7. Banyak istri yang baik. Tapi di luar sana banyak pria yang ingin mempunyai istri yang baik dan mereka tidak mendapatkannya. Mereka akan menawarkan perlindungan terhadap istrimu. Maka jangan biarkan istrimu meninggalkan rumah karena kesedihan, Sebab ia akan sulit sekali untuk kembali.

8. Ajarkan anak laki-lakimu bagaimana berlaku terhadap ibunya, sehingga kelak mereka tahu bagaimana memperlakukan istrinya.


*Berbagai sumber*
Continue reading →
Monday, December 3, 2012

Ya akhi, Cintailah Istrimu..!!

0 comments

Ada sepasang suami istri mendatangi seorang ustad yang dikenal sangat bijak dalam menuntaskan perkara umat.

Ustad, tolong bantu kami ustad !! Kami sudah menikah selama 20 tahun, lama-kelamaan rasa cinta itu mulai hilang, kini kami sudah tidak saling mencintai, ustad ! Tolong beri kami solusi ?

Ya akhi, cintailah istrimu ! Jawab ustad itu singkat.

Sang suami merasa bingung, justru itulah masalahnya, maka ia mulai mengulangi pertanyaannya : 

ustad, kami sudah menikah selama 20 tahun dan kini kami sudah tidak lagi mencintai ?

Ya akhi, cintailah istrimu !! Jawab ustad itu yang kedua kalinya dengan tegas.

Merasa tidak puas lagi dengan jawabannya, ia bertanya lagi :

tapi ustad, saya sudah tidak lagi mencintai istri saya ?

Ya akhi, cintailah istrimu !!!

Kata cinta bukanlah kata benda dan bukan pula kata sifat yang tiba-tiba ada, Tapi cinta adalah kata kerja !
Kata kerja yang harus dikerjakan, diperjuangkan dan terus-menerus diupayakan !!! Jawabnya tegas.

Seorang yang ingin mendapatkan dan merasakan cinta, ia harus berjuang dan berusaha mencintai.
Bagaimana mungkin cinta itu bisa tumbuh jika tidak pernah ditanam dan bagaimana mungkin bisa berbuah jika tidak pernah dipupuk, dirawat dan dijaga. Seorang yang ingin mendapatkan manisnya cinta harus berjuang hingga cinta itu berbuah.

Sungguh sering dari kita menginginkan cinta tanpa berusaha mencintai terlebih dahulu, ingin di dengar tanpa berusaha untuk mendengar, ingin di hargai tanpa berusaha untuk menghargai.
Siapa yang menanam pastilah dia akan memetiknya.

Hidup ini adalah sebab-akibat, tanpa ada sebab tidak akan ada akibatnya.
Yang harus kita lakukan bukanlah take and give Tapi give and take, berikan maka anda akan mendapatkan.
Karena satu biji yang kita taman, pasti akan Allah beri 700 biji atau lebih, karena Allah mencintai mereka dan mereka mencintai Allah.
Continue reading →
Monday, August 6, 2012

Teruntuk Dirimu yang Menyayangiku Setulus Hati

0 comments

Bismillahirrahmanirrahiim....
Bila aku jatuh cinta.
Ku labuhkan persaaan cinta ini kepada-Mu
Karena ku tahu ini adalah cinta karena fitrah dari-Mu
Yang sengaja Engkau berikan kepada hati setiap hamba-Mu
Untuk menyempurnakan separuh dari agama kami
Bila aku jatuh cinta.
Aku hanya manusia biasa ya Allah
Terkadang hati ini masih sulit untuk dijaga
Aku bukanlah seorang malaikat yang tidak mempunyai nafsu
Aku bukan seorang muslimah yang baik
Yang selalu taat akan kewajiban kami kepada-Mu
Terkadang diri ini masih sering melakukan hal-hal yang Engkau larang
Baik sengaja atau pun tidak..
Ya Allah,
Jauhkan segala rasa yang akan membawa kami kepada kakafiran
Hingga dapat menjauhkan kami dari segala kebaikan diri
Bila aku jatuh cinta.
Aku takut cinta ini akan membawa aku ke dalam jurang maksiat..
Ingatkan aku ya Allah
Ingatkan kami...
Bila aku jatuh cinta.
Hal yang seharusnya membuat bangga para wanita
Tapi dihatiku yang ada hanya ketakutan
Aku takut tidak bisa menjaga hati ini
Hingga berkuranglah rasa cintaku pada-Mu
Jauhlah segala angan yang membuat akau terhempas ke lautan gelora yang penuh dosa
Ya Allah ya Tuhanku..
Bila aku jatuh cinta.
Hal yang seharusnya membuat jiwa gelora,
Taoi kini aku tersungkur dalam nestapa
Mengartikan perasaan yang tidak biasa ini
Mengartikan segalanya ini
Jauhkanlah jauhkan lah
Jauhkanlah segala keburukan kepada kami...
***
jika dia tercipta untukku,
dekatkanlah yang jauh ini
satukan hati kami agar selalu terpaut akan kasih-Mu
jika dia tertulis untukku,
ubahlah segala yang buruk menjadi kebaikan dalam hidup kami
agar selalu terjaga hubungan ini menjadi hubungan yang Engkau ridhoi
jika dia hanyalah untukku
jangan biarkan keraguan ini membayang di hati
dan akan menjadi ketakutan di sanubari...
ku genggam erat Tangan-mu ya Rabb..
persatukan kami dalam naungan cinta-Mu
laksana cinta Rasul kepada-Mu
laksana Muhammad kepada Khadijah
laksana Ali menyayangi fatimah...
agar cinta ini menjadi sebuah pendar-pendar dakwah
untu kekuatan agama-Mu ya Rabb..

by: Al-Madinatul Siti Munawwaroh
Continue reading →
Sunday, August 5, 2012

Pacaran

0 comments
Continue reading →
Friday, July 20, 2012

Bila Suami Mengerjakan Tugas Istri

0 comments
Bismillahirramanirrahim..

Suatu malam di pinggiran Kota Pekalongan…“Bang, maaf ya.. dari kemarin Muti dah pengen banget ngebersihin kulkas, tapi belum sempat juga.” kataku sambil memperhatikan suamiku yang sedang membersihkan sisa-sisa defrost kulkas.

Sedih rasanya melihat suamiku melakukan pekerjaan rumah yang biasanya aku kerjakan sendiri, apalagi di tengah-tengah kesibukannya kuliah, membuatku semakin merasa bersalah tidak dapat memberikannya ketenangan sepulangnya dari kampus. Suamiku hampir selalu pulang larut malam.

Terkadang sesampainya ia di rumah, ia bisa langsung mencuci baju, walau pakai mesin cuci tapi kan tetap saja ada waktu dan tenaga yang harus dicurahkan. Terkadang kalau aku sudah tidur, semerbak wangi cairan pembersih lantai tercium olehku. Ketika kubuka mataku, tampaklah suamiku sedang mengepel lantai. Kadang ia juga tampak sedang melap perabotan berdebu, dan kali ini suamiku membersihkan kulkas. Subhanallah…

Istri mana yang tak bahagia bila suaminya mau membantunya mengerjakan pekerjaan yang biasanya dia lakukan sendiri di rumah, seperti bersih-bersih, menyapu, mengepel, mencuci… yah, walaupun mencucinya juga pakai mesin cuci, tapi tetap saja kan kebanyakan istri yang melakukan tugas itu ?!

Ada suami yang membantu istrinya itu karena sudah terbiasa sejak sebelum menikah dulu sehingga melakukan pekerjaan rumah tangga adalah hal yang biasa bahkan mudah baginya. Dengan senang hati ia melakukan apa yang bisa ia lakukan untuk meringankan pekerjaan istrinya di rumah. Masya Allah!

Tapi ada juga suami yang tidak biasa dengan pekerjaan itu namun ia berusaha sekuat tenaga melakukannya karena Allah, ingin mencontoh Nabi Muhammad -shallallahu’alayhi wasallam- yang dipuji istri beliau sebagai suami yang suka membantu pekerjaan istrinya. [1]

Yang paling menyebalkan tentunya suami yang sudah tidak biasa melakukan pekerjaan rumah tangga, tidak mau berusaha, mengeluh pula. “Deuh ni lantai kotor amat sih!” katanya tanpa berinisiatif melakukan apa-apa, padahal ia tahu istrinya sudah kerepotan dengan pekerjaan rumah tangga yang lain dan disibukkan dengan anak2nya sepanjang hari. Kalau pun ia mau berusaha membantu istrinya, sambil mengomel dia melakukannya, “Harusnya kamu nih yang ngerjain!”

Di lain pihak, ada istri yang senang dan amat bersyukur karena suaminya membantunya, baik suaminya itu melakukannya dengan ikhlas ataupun tidak. Saking senangnya sampai ia merasa malu bahkan menganggap dirinya tidak becus sebagai istri “Istri macam apa aku ini, sampai suami harus turun tangan”, begitu bisiknya dalam hati ketika melihat suaminya mengerjakan pekerjaan rumah.

Tapi ada juga seorang istri yang merasa “Ya memang harus begitulah seorang suami; membantu tugas istri di rumah. Lagian biar suami tuh tau kalo pekerjaan istri di rumah tu bikin capek juga.”

Bahkan ada juga istri yang lebih parah lagi, yaitu yang kelewatan. Sudah tahu suaminya akan membantu, ia mengeluh terus, berharap suaminya iba dan akhirnya membantunya.

Padahal suami itu telah banyak membantu kita tanpa kita sadari.
Dia menikahi kita, agar kita terjaga dari fitnah.
Dia memberi kita tempat tinggal, agar kita terjaga dari cuaca.
Dia memberi kita nafkah, agar kita bisa belanja.
Dia memberi kita anak, agar ada yang dapat mendoakan kita masuk surga.

Susah payah dia mempertahankan kebahagiaan kita, walau kita tak selalu menyadarinya.
Dan kita masih berharap dia membantu pekerjaan kita di rumah???
Sungguh wahai Suamiku,
rasa bersalah yang sangat besar menimpa diriku
apabila kau sampai membantuku dalam melakukan pekerjaanku di rumah,
walau tidak kupingkiri aku merasa sangat terbantu karena itu.

Aku selalu minta maaf apabila suamiku sampai harus mengerjakan pekerjaan di rumah. Tapi aku tidak tahu apakah ia pernah mendengarkanku mengucapkannya. Aku tahu kepalanya sudah cukup penuh dengan tugas-tugas di kampus. Seperti malam itu ketika ia membersihkan kulkas. Aku tak tahu apa ia sedang menyindir ketidak cekatanku ataukah memang ia ingin meringankan bebanku.

Berkecamuk perasaan dan pikiranku. Apakah suamiku marah ataukah ia ikhlas melakukannya…

“Bang…” kataku.

“Ya…” katanya.

“Maaf, Muti belum sempet ngebersihin kulkas..” kataku sekali lagi…

“Iya gapapa…”

Matanya tak menatapku, tangannya masih sibuk melap dinding-dindind kulkas. Sepertinya pikirannya tidak di rumah, melainkan di tugas-tugasnya yang menumpuk. Sementara aku semakin terpuruk memikirkan kenapa nggak aku kerjain tadi siang. Kasihan suamiku, banyak sekali paper yang harus ia kerjakan, dan sekarang dia sedang membersihkan kulkas.

“Gapapa ti…” katanya, “Abang juga sambil refreshing kok…”

Haaa?! Refreshing?! Membersihkan kulkas = refreshing?!

Masya Allah… aku jadi senyum deh. Mungkin layar laptop membuat mata lelah ya bang, dan membersihkan kulkas itu lebih ringan daripada mengerjakan tugas-tugas yang ada.

Barakallahu fiik. Jazakallahu khayr ya zawjiy..

Sudahlah membantu pekerjaan istri itu meringankan beban yang ada, apalagi dianggap sebagai refreshing saja…
______________
[1] Diriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha, ia berkata : “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam suka membantu pekerjaan istrinya. Dan jika tiba waktu shalat, beliau keluar untuk menjalankan shalat”. [HR Bukhari, 6039].
Continue reading →
Saturday, July 14, 2012

Kenapa Ikhwan Ingin Akhwat yang Cantik?

5 comments
"HERAN.....dan TERPUKAU"
Itu mungkin, yang ada dalam pikiran saya sekarang..,

Mereka berkata :
" Ana inginnya bisa menikah dengan akhwat yang cantik,putih, langsing, lembut, pintar, enak dipandang mata"
"Ikhwan sekarang sukanya sama akhwat yang umurnya dibawah 25 tahun, kalau yang udah diatas 25 tahun, biasanya udah susah ukhti...."
"Ikhwan merasa tertipu dengan akhwat yang tidak cantik tapi berpura-pura shalihah saat taarufan, namun ketika sudah menikah, ternyata akhwat tersebut sama sekali di luar dugaan.., Jadi sekarang ikhwan lebih memilih untuk menikah dengan akhwat yang cantik, sehingga jika ternyata terbukti tidak shalihah, mereka masih kebagian cantiknya...!?! "
atau :

'iya siy, wanita itu dipilih karena 4 hal, tapi mau bagaimana lagi, hati penginnya bisa nikah sama akhwat yang cantik...hehehe...

??????

"ana udah sering taarufan,,,tapi gagal...mungkin karena fisik ana...?"


Belum lagi kenyataan yang menyebutkan betapa timpangnya perbedaan jumlah kaum Adam dan Hawa.., Membuat seakan-akan, kecilnya kemungkinan'seorang wanita biasa-biasa saja' untuk dipilih menjadi pasangan hidup...

Dan tidak dapat dipungkiri, memang, kadang kita melihat, seseorang yang dikarunia ifisik yang menawan, dan juga berbagai kelebihan, serta keshalihah..., seakan semakin memundurkan langkah "wanita biasa saja tersebut"

Dan, coba lihatlah di sekeliling kita. Berapa banyak perempuan yang melajang...? Beberapa diantara mereka telah melampaui usia 25tahun, 30 tahun, atau bahkan hendak memasuki 40 tahun...?

Lihatlah media televisi atau radio atau iklan...? Bagaimana tanggapan mereka terhadap orang yang secara fisik dapat dikatakan 'kurang"...?Menjadikan mereka sebagai lelucon, dan tanpa sadar, terkadang, kita pun mentertawakan mereka...?

Kesemuanya itu seakan menjadikan momok dan pukulan yang membuat minder para akhwat yang qadarullah tercipta dengan 'penampilan yang biasa saja"

Dan bagaimana, jika JIKA KITA ada diposisi tersebut...?????

Haruskah kita menangis tersedu...?
Terpincang-pincang meniti kehidupan...?
Atau melalui hidup dalam kesendirian...?????
Jujur,,,ini bukan pertama kalinya saya mendengar kata-kata itu...
Sebuah sketsa yang bagus dari cerita Temen saya tentang dosennya...

Beliau- sang dosen- berkata, :
"anak-anak sekarang banyak yang cantik-cantik ya...?, soalnya yang ganteng, nikahnya sama yang cantik. Yang cantik, nikahnya sama yang ganteng..."

Yang jelek...??????

PUNAH...!!!!!

(hmmm,,,^^)

MeManGnya KeNaPa jiKa ikHwan ingiNnya akhWat canTik...?(Memangnya KeNapa Kalau kami TiDak canTik.....?????)

Dulu...ketika pertama kali, saya mendengar pernyataan seorang teman, mengenai akhwat impiannya...hati rasanya bergemuruh...antara marah, kesal, tapi tak dapat berbuat apa-apa. Karena itu adalah haknya...!!!

Sepintas saya berkata dalam hati...(seperti biasa...with mychildish" ^^)

" inikah....????? Inikah ikhwan yang sudah menyambangi kajian selama bertahun-tahun...???? Inikah ikhwan yang telah penuh dengan materi kajian keislaman...??? Inikah ikhwan yang mengikuti sunnah...?????Inikaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhh....???

Tapi kenyataannya, itu adalah haknya, fitrahnya (mungkin....)....!!! Dan saya tidak boleh marah...karena pada dasarnya manusia memang berbeda-beda dalam prinsip dan keinginan...

Dan kini...saya hanya ingin menulisnya dalam catatan kecil (dan agak aneh ini...(uhuk-uhuk ^^)....untuk sekedar membagikan apa yang saya rasakan....

Karena...saya percaya...bahwa hidup adalah sebuah anugrah yang indah...dan takdir adalah sebuah catatan yang terbaik yang akan kita lalui dalam anugrah yang indah tersebut...^^

Demikian juga, saya percaya, bahwa suatu saat, akan datang seseorang yang paling baik untuk kita...yang akan menerima kita apa adanya...(^^amin...luph luph...^^)

Yang meski kita tidak memiliki kecantikan yang memukai....

Yang meski kita tidak memiliki harta yang menggunung...

Yag meski kita memiliki kekurangan silih berganti...

Dia akan datang...

Karena dialah, seseorang yang telah ditakdirkan untukmenjadi pasangan terindah dalam hidup kita..^^

Karena itulah, kita harus percaya diri...^^

Mungkin seseorang akan menetapkan pilihannya pada seorang akhwat yang cantik, dan mempesona...

Namun, tentunya tak semua orang akan berpendapat yang sama...

Mungkin seseorang akan berpikir untuk bisa menikah dengan seseorang yang hampir sempurna kecantikannya...

Namun, berapa banyak juga seseorang yang justru minder jika menikah dengan orang yang terlalu sempurna...
(Mungkin karena banyak saingan atau takut disobot orang lain... ...^^)

Betapa banyak laki-laki yang ingin bisa menikah dengan wanita cantik...

Dan betapa banyak wanita yang ingin bisa menikah dengan laki-laki yang mapan..."

Namun...jika takdir menyatakan hal yang lain...? Atau hati berbicara yang lain....?

Sesungguhnya manusia hanya bisa berkeinginan...namun Allah yang Maha Adil lah, yang menentukan...


Pena telah diangkat, dan tinta telah kering...
Jalan hidup telah ditentukan...
Lalu...ada apa dengan kekhawatiran...?
Tidak kebagian jodoh...?
Tidak kebagian rizki...???
Lalu ada apa dengan gugurnya rasa percaya diri...?
Hanya karena fenomena...?
Hanya karena pendapat...?
Hanya karena perkataan manusia...??
Hanya karena berkali-kali gagal taarufan...??
Tenanglah....

Sama seperti halnya wanita yang dengan senang hati menikah dengan seseorang laki-laki yang tidak tampan lagi tidak bergelimpangan harta...
Demikian halnya dengan kaum laki-laki....

Masih buanyaaak diantara mereka yang memegang prinsip'SEBAIK-BAIK PERHIASAN ADALAH WANITA YANG SHOLEHAH"

Dan seperti itulah laki-laki yang lebih pantas untukditunggu...(Menurut sya lo...^^)

Mari kita membayangkan,,,,

Apakah engkau akan bahagia jika menikah dengan seseorang yang hanya melihat fisikmu...?

Apakah engkau akan bahagia, jika bersanding dengan SESEORANG YANG HANYA MELIHAT CANTIK LUARMU, sedangkan waktu berangsur-angsur menggerogoti indah kulitmu...

Lalu apa yang tersisa saat itu....?

Sedangkan penelitian menunjukkan bahwa cinta hanya akan berlangsung selama 4 tahun...
Karena pernikahan itu, tidak hanya atas dasar kecantikan atau ketampanan...
Tidak pula atas dasar kepemilikan harta...
Bahkan bukan hanya atas nama cinta...
Bukan hanya atas dasar nyaman tidak nyaman di dekatnya...
Namun, yang paling pasti adalah, Pernikahan itu ada, karena takdir yang mencatatnya...



Saudariku....
KETAHUILAH...

SECANTIK APAPUN SEORANG WANITA, SEPOPOLER APAPUN, SEBANYAK APAPUN LAKI-LAKI YANG MENGANTRI UNTUK MENUNGGUNYA....SEKAYA APAPUN...SEPANDAI APAPUN...

NAMUN...jika Allah belum menghendaki ia akan menikah...maka ia pun belum akan menikah....



dan....seorang wanita...yang meski ia tidak cantik....tidak kaya...tidak populer....yang bahkan tidak pernah dilirik dua kali...(^^)...yang tidak memiliki kepandaian menggunung....NAMUN JIKA Allah menetapkan ia akan menikah...maka ia pun akan menikah...!


itulah keADILAN ALLAH...!!!

Dan itu artinya...
Tak perlu kita merasa lemah karena tak memiliki kecantikan...
Tak perlu kita merasa gagal, karena tak memiliki harta...
Tak perlu kita bersedih berkepanjangan karena tak terkenal,tak popular...
Karena, everyone is so special...^^
Believe me... ♥

Jangan menjadi orang lain...tapi jadilah seseorang yang lebih bertaqwa....
Ingatlah janji Allah
karena tidak semua orang memiliki pandangan yang sama terhadap sesuatu...^^
ITULAH MENGAPA...setiap orang punya kriteria masing-masing...dan itu adalah hak mereka...biarlah mereka dengan pemikirannya masing-masing...^^

namun...jangan sampai pemikiran mereka itu akhirnya membuat rasa percaya diri kita berguguran...^^

biarkan saja MEREKA dengan pemikirannya...^^ karena...ikhwan seperti itu tidak ada di list "orang yang keren" di hati KITA" hehehhe

^^
Karena itu, mulai sekarang...jadilah seseorang yang lebihkuat...
Dan persiapkanlah dirimu dengan baik...
Karena...inilah hidup terindah yang akan engkau lalui...^^

Keep fighting....!!!!
Continue reading →
Friday, July 13, 2012

Aku Mencintaimu Karena Agama Yang Ada Padamu

0 comments
Yaa Rabbi.....Ajarilah kami bagaimana memberi sebelum meminta,berfikir sebelum bertindak,santun dalam berbicara,tenang ketika gundah,diam ketika emosi melanda,bersabar dalam setiap ujian.Jadikanlah kami orang yg selembut Abu Bakar Ash-Shiddiq,sebijaksana Umar bin Khattab,sedermawan Utsman bin Affan,sepintar Ali bin Abi Thalib,sesederhana Bilal,setegar Khalid bin Walid radliallahu'anhumღAmiin ya Rabbal'alamin.

Cinta adalah fitrah manusia. Cinta juga salah satu bentuk kesempurnaan penciptaan yang Allah berikan kepada manusia. Allah menghiasi hati manusia dengan perasaan cinta pada banyak hal. Salah satunya cinta seorang lelaki kepada seorang wanita, demikian juga sebaliknya.

Islam sebagai syariat yang sempurna,memberi koridor bagi penyaluran fitrah ini. Apalagi cinta yang kuat adalah salah satu energi yang bisa melanggengkan hubungan seorang pria dan wanita dalam mengarungi kehidupan rumah tangga. Karena itu, seorang pria shalih tidak asal dapat dalam memilih wanita untuk dijadikan pendamping hidupnya.

Ada banyak faktor yang bisa menjadi sebab munculnya rasa cinta seorang pria kepada wanita untuk diperistri. Setidak-tidaknya seperti di bawah ini.

Karena akidahnya yang Shahih.

Keluarga adalah salah satu benteng akidah. keluarga harus benar-benar kokoh dan tidak bisa ditembus. Jika rapuh, maka rusaklah segala-galanya dan seluruh anggota keluarga tidak mungkin selamat dunia-akhirat. Dan faktor penting yang bisa membantu seorang lelaki menjaga kekokohan benteng rumah tangganya adalah istri shalihah yang berakidah shahih serta paham betul akan peran dan fungsinya sebagai madrasah bagi calon pemimpin umat generasi mendatang.

Allah menekankah hal ini dalam firmanNya, “Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.” (Al-Baqarah: 221)

Karena paham agama dan mengamalkannya.

Ada banyak hal yang membuat seorang lelaki mencintai wanita. Ada yang karena kemolekannya semata. Ada juga karena status sosialnya. Tidak sedikit lelaki menikahi wanita karena wanita itu kaya. Tapi, kata Rasulullah yang beruntung adalah lelaki yang mendapatkan wanita yang faqih dalam urusan agamanya. Itulah wanita dambaan yang lelaki shalih.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw. bersabda, “Wanita dinikahi karena empat perkara: karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka, ambillah wanita yang memiliki agama (wanita shalihah), kamu akan beruntung.” (Bukhari dan Muslim)

Rasulullah saw. juga menegaskan, “Dunia adalah perhiasan, dan perhiasan dunia yang paling baik adalah wanita yang shalihah.” (Muslim, Ibnu Majah, dan Nasa’i).

Jadi, hanya lelaki yang tidak berakal yang tidak mencintai wanita shalihah.

Dari keturunan yang baik. Rasulullah saw. mewanti-wanti kaum lelaki yang shalih untuk tidak asal menikahi wanita. “Jauhilah rumput hijau sampah!” Mereka bertanya, “Apakah rumput hijau sampah itu, ya Rasulullah?” Nabi menjawab, “Wanita yang baik tetapi tinggal di tempat yang buruk.” (Daruquthni, Askari, dan Ibnu ‘Adi)

Karena itu Rasulullah saw. memberi tuntunan kepada kaum lelaki yang beriman untuk selektif dalam mencari istri. Bukan saja harus mencari wanita yang tinggal di tempat yang baik, tapi juga yang punya paman dan saudara-saudara yang baik kualitasnya. “Pilihlah yang terbaik untuk nutfah-nutfah kalian, dan nikahilah orang-orang yang sepadan (wanita-wanita) dan nikahilah (wanita-wanitamu) kepada mereka (laki-laki yang sepadan),” kata Rasulullah. (Ibnu Majah, Daruquthni, Hakim, dan Baihaqi).

“Carilah tempat-tempat yang cukup baik untuk benih kamu, karena seorang lelaki itu mungkin menyerupai paman-pamannya,” begitu perintah Rasulullah saw. lagi. “Nikahilah di dalam “kamar” yang shalih, karena perangai orang tua (keturunan) itu menurun kepada anak.” (Ibnu ‘Adi)

Karena itu, Utsman bin Abi Al-’Ash Ats-Tsaqafi menasihati anak-anaknya agar memilih benih yang baik dan menghindari keturunan yang jelek. “Wahai anakku, orang menikah itu laksana orang menanam. Karena itu hendaklah seseorang melihat dulu tempat penanamannya. Keturunan yang jelek itu jarang sekali melahirkan (anak), maka pilihlah yang baik meskipun agak lama.”

Masih gadis. Siapapun tahu, gadis yang belum pernah dinikahi masih punya sifat-sifat alami seorang wanita. Penuh rasa malu, manis dalam berbahasa dan bertutur, manja, takut berbuat khianat, dan tidak pernah ada ikatan perasaan dalam hatinya. Cinta dari seorang gadis lebih murni karena tidak pernah dibagi dengan orang lain, kecuali suaminya.

Karena itu, Rasulullah saw. menganjurkan menikah dengan gadis. “Hendaklah kalian menikah dengan gadis, karena mereka lebih manis tutur katanya, lebih mudah mempunyai keturunan, lebih sedikit kamarnya dan lebih mudah menerima yang sedikit,” begitu sabda Rasulullah yang diriwayatkan oleh (Ibnu Majah dan Baihaqi.)

Tentang hal ini A’isyah pernah menanyakan langsung ke Rasulullah saw. “Ya Rasulullah, bagaimana pendapatmu jika engkau turun di sebuah lembah lalu pada lembah itu ada pohon yang belum pernah digembalai, dan ada pula pohon yang sudah pernah digembalai; di manakah engkau akan menggembalakan untamu?” Nabi menjawab, “Pada yang belum pernah digembalai.” Lalu A’isyah berkata, “Itulah aku.”

Menikahi gadis perawan akan melahirkan cinta yang kuat dan mengukuhkan pertahanan dan kesucian. Namun, dalam kondisi tertentu menikahi janda kadang lebih baik daripada menikahi seorang gadis. Ini terjadi pada kasus seorang sahabat bernama Jabir.

Rasulullah saw. sepulang dari Perang Dzat al-Riqa bertanya Jabir, “Ya Jabir, apakah engkau sudah menikah?” Jabir menjawab, “Sudah, ya Rasulullah.” Beliau bertanya, “Janda atau perawan?” Jabir menjawab, “Janda.” Beliau bersabda, “Kenapa tidak gadis yang engkau dapat saling mesra bersamanya?” Jabir menjawab, “Ya Rasulullah, sesungguhnya ayahku telah gugur di medan Uhud dan meninggalkan tujuh anak perempuan. Karena itu aku menikahi wanita yang dapat mengurus mereka.” Nabi bersabda, “Engkau benar, insya Allah.”

Sehat jasmani dan penyayang. Sahabat Ma’qal bin Yasar berkata, “Seorang lelaki datang menghadap Nabi saw. seraya berkata, “Sesungguhnya aku mendapati seorang wanita yang baik dan cantik, namun ia tidak bisa melahirkan. Apa sebaiknya aku menikahinya?” Beliau menjawab, “Jangan.” Selanjutnya ia pun menghadap Nabi saw. untuk kedua kalinya, dan ternyata Nabi saw. tetap mencegahnya. Kemudian ia pun datang untuk ketiga kalinya, lalu Nabi saw. bersabda, “Nikahilah wanita yang banyak anak, karena sesungguhnya aku akan membanggakan banyaknya jumlah kalian di hadapan umat-umat lain.” (Abu Dawud dan Nasa’i).

Karena itu, Rasulullah menegaskan, “Nikahilah wanita-wanita yang subur dan penyayang. Karena sesungguhnya aku bangga dengan banyaknya kalian dari umat lain.” (Abu Daud dan An-Nasa’i)

Berakhlak mulia. Abu Hasan Al-Mawardi dalam Kitab Nasihat Al-Muluk mengutip perkataan Umar bin Khattab tentang memilih istri baik merupakan hak anak atas ayahnya, “Hak seorang anak yang pertama-tama adalah mendapatkan seorang ibu yang sesuai dengan pilihannya, memilih wanita yang akan melahirkannya. Yaitu seorang wanita yang mempunyai kecantikan, mulia, beragama, menjaga kesuciannya, pandai mengatur urusan rumah tangga, berakhlak mulia, mempunyai mentalitas yang baik dan sempurna serta mematuhi suaminya dalam segala keadaan.”

Lemah-lembut. Imam Ahmad meriwayatkan hadits dari A’isyah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Wahai A’isyah, bersikap lemah lembutlah, karena sesungguhnya Allah itu jika menghendaki kebaikan kepada sebuah keluarga, maka Allah menunjukkan mereka kepada sifat lembah lembut ini.” Dalam riwayat lain disebutkan, “Jika Allah menghendaki suatu kebaikan pada sebuah keluarga, maka Allah memasukkan sifat lemah lembut ke dalam diri mereka.”

Menyejukkan pandangan. Rasulullah saw. bersabda, “Tidakkah mau aku kabarkan kepada kalian tentang sesuatu yang paling baik dari seorang wanita? (Yaitu) wanita shalihah adalah wanita yang jika dilihat oleh suaminya menyenangkan, jika diperintah ia mentaatinya, dan jika suaminya meninggalkannya ia menjaga diri dan harta suaminya.” (Abu daud dan An-Nasa’i)

“Sesungguhnya sebaik-baik wanitamu adalah yang beranak, besar cintanya, pemegang rahasia, berjiwa tegar terhadap keluarganya, patuh terhadap suaminya, pesolek bagi suaminya, menjaga diri terhadap lelaki lain, taat kepada ucapan dan perintah suaminya dan bila berdua dengan suami dia pasrahkan dirinya kepada kehendak suaminya serta tidak berlaku seolah seperti lelaki terhadap suaminya,” begitu kata Rasulullah saw. lagi.

Maka tak heran jika Asma’ binti Kharijah mewasiatkan beberapa hal kepada putrinya yang hendak menikah. “Engkau akan keluar dari kehidupan yang di dalamnya tidak terdapat keturunan. Engkau akan pergi ke tempat tidur, di mana kami tidak mengenalinya dan teman yang belum tentu menyayangimu. Jadilah kamu seperti bumi bagi suamimu, maka ia laksana langit. Jadilah kamu seperti tanah yang datar baginya, maka ia akan menjadi penyangga bagimu. Jadilah kamu di hadapannya seperti budah perempuan, maka ia akan menjadi seorang hamba bagimu. Janganlah kamu menutupi diri darinya, akibatnya ia bisa melemparmu. Jangan pula kamu menjauhinya yang bisa mengakibatkan ia melupakanmu. Jika ia mendekat kepadamu, maka kamu harus lebih mengakrabinya. Jika ia menjauh, maka hendaklah kamu menjauh darinya. Janganlah kami menilainya kecuali dalam hal-hal yang baik saja. Dan janganlah kamu mendengarkannya kecuali kamu menyimak dengan baik dan jangan kamu melihatnya kecuali dengan pandangan yang menyejukan.”

Realistis dalam menuntut hak dan melaksanakan kewajiban. Salah satu sifat terpuji seorang wanita yang patut dicintai seorang lelaki shalih adalah qana’ah. Bukan saja qana’ah atas segala ketentuan yang Allah tetapkan dalam Al-Qur’an, tetapi juga qana’ah dalam menerima pemberian suami. “Sebaik-baik istri adalah apabila diberi, dia bersyukur; dan bila tak diberi, dia bersabar. Engkau senang bisa memandangnya dan dia taat bila engkau menyuruhnya.” Karena itu tak heran jika acapkali melepas suaminya di depan pintu untuk pergi mencari rezeki, mereka berkata, “Jangan engkau mencari nafkah dari barang yang haram, karena kami masih sanggup menahan lapar, tapi kami tidak sanggup menahan panasnya api jahanam.”

Kata Rasulullah, “Istri yang paling berkah adalah yang paling sedikit biayanya.” (Ahmad, Al-Hakim, dan Baihaqi dari A’isyah r.a.)

Tapi, “Para wanita mempunyai hak sebagaimana mereka mempunyai kewajiban menurut kepantasan dan kewajaran,” begitu firman Allah swt. di surah Al-Baqarah ayat 228. Pelayanan yang diberikan seorang istri sebanding dengan jaminan dan nafkah yang diberikan suaminya. Ini perintah Allah kepada para suami, “Berilah tempat tinggal bagi perempuan-perempuan seperti yang kau tempati. Jangan kamu sakiti mereka dengan maksud menekan.” (At-Thalaq: 6)

Menolong suami dan mendorong keluarga untuk bertakwa. Istri yang shalihah adalah harta simpanan yang sesungguhnya yang bisa kita jadikan tabungan di dunia dan akhirat. Iman Tirmidzi meriwayatkan bahwa sahabat Tsauban mengatakan, “Ketika turun ayat ‘walladzina yaknizuna… (orang yang menyimpan emas dan perak serta tidak menafkahkannya di jalan Allah), kami sedang bersama Rasulullah saw. dalam suatu perjalanan. Lalu, sebagian dari sahabat berkata, “Ayat ini turun mengenai emas dan perak. Andaikan kami tahu ada harta yang lebih baik, tentu akan kami ambil”. Rasulullah saw. kemudian bersabda, “Yang lebih utama lagi adalah lidah yang berdzikir, hati yang bersyukur, dan istri shalihah yang akan membantu seorang mukmin untuk memelihara keimanannya.”

Mengerti kelebihan dan kekurangan suaminya. Nailah binti Al-Fafishah Al-Kalbiyah adalah seorang gadis muda yang dinikahkan keluarganya dengan Utsman bin Affan yang berusia sekitar 80 tahun. Ketika itu Utsman bertanya, “Apakah kamu senang dengan ketuaanku ini?” “Saya adalah wanita yang menyukai lelaki dengan ketuaannya,” jawab Nailah. “Tapi ketuaanku ini terlalu renta.” Nailah menjawab, “Engkau telah habiskan masa mudamu bersama Rasulullah saw. dan itu lebih aku sukai dari segala-galanya.”

Pandai bersyukur kepada suami. Rasulullah saw. bersabda, “Allah tidak akan melihat kepada seorang istri yang tidak bersyukur (berterima kasih) kepada suaminya, sedang ia sangat membutuhkannya.” (An-Nasa’i).

Cerdas dan bijak dalam menyampaikan pendapat. Siapa yang tidak suka dengan wanita bijak seperti Ummu Salamah? Setelah Perjanjian Hudhaibiyah ditandatangani, Rasulullah saw. memerintahkan para sahabat untuk bertahallul, menyembelih kambing, dan bercukur, lalu menyiapkan onta untuk kembali pulang ke Madinah. Tetapi, para sabahat tidak merespon perintah itu karena kecewa dengan isi perjanjian yang sepertinya merugikan pihak kaum muslimin.

Rasulullah saw. menemui Ummu Salamah dan berkata, “Orang Islam telah rusak, wahai Ummu Salamah. Aku memerintahkan mereka, tetapi mereka tidak mau mengikuti.”

Dengan kecerdasan dalam menganalisis kejadian, Ummu Salamah mengungkapkan pendapatnya dengan fasih dan bijak, “Ya Rasulullah, di hadapan mereka Rasul merupakan contoh dan teladan yang baik. Keluarlah Rasul, temui mereka, sembelihlah kambing, dan bercukurlah. Aku tidak ragu bahwa mereka akan mengikuti Rasul dan meniru apa yang Rasul kerjakan.”

Subhanallah, Ummu Salamah benar. Rasulullah keluar, bercukur, menyembelih kambing, dan melepas baju ihram. Para sahabat meniru apa yang Rasulullah kerjakan. Inilah berkah dari wanita cerdas lagi bijak dalam menyampaikan pendapat. Wanita seperti inilah yang patut mendapat cinta dari seorang lelaki yang shalih

http://goo.gl/CHqK8
Continue reading →

Indahnya Menemukan Sang Tulang Rusuk Rusuk

0 comments
Jangankan lelaki biasa, Nabi pun terasa sunyi tanpa wanita..,

Tanpa mereka , hati, pikiran, perasaan lelaki akan resah...

Masih mencari walaupun sudah ada segala-galanya..,

Apalagi yang tidak ada di surga,

namun Nabi Adam a.s tetap merindukan Siti Hawa....


Kepada wanitalah lelaki memanggil ibu, istri, atau puteri...

Dijadikan mereka dari tulang rusuk yang bengkok untuk diluruskan oleh

lelaki, tetapi kalau sendiri yang tidak lurus,

tidak mungkin mampu hendak meluruskan mereka....


Tak logis kayu yang bengkok menghasilkan bayang-bayang yang lurus.

Luruskanlah mereka dengan petunjuk Allah,

karena mereka diciptakan begitu rupa oleh-Nya...

Didiklah mereka dengan panduan dari-Nya:


Jangan coba jinakkan mereka dengan harta, nanti mereka semakin liar…

Jangan hibur mereka dengan kecantikan, nanti mereka semakin menderita…

Yang sementara itu tidak akan menyelesaikan masalah…

Kenalkan mereka kepada Allah, Dzat yang kekal, di situlah kuncinya


Akal setipis rambutnya, tebalkan ia dengan ilmu….

Hati yang serapuh kaca, tebalkan ia dengan iman….

Perasaan yang selembut sutera, hiasilah ia dengan akhlak….


Suburkanlah, karena dari situlah nanti mereka akan nampak

penilaian dan keadilan Tuhan.

Akan terhibur dan berbahagialah mereka, walaupun tidak jadi ratu cantik

dunia, presiden ataupun perdana menteri ataupun women gladiator.

Bisikkan ke telinga mereka bahwa kelembutan bukan suatu kelemahan.

Itu bukan diskriminasi Tuhan.

Sebaliknya di situlah kasih sayang Tuhan, karena rahim wanita yang

lembut itulah yang mengandung-kan lelaki2 wajah: negarawan, karyawan,

jutawan dan wan-wan lain

Tidak akan lahir superman tanpa superwoman.


Wanita yang lupa hakikat kejadiannya, pasti tidak terhibur dan tidak menghiburkan.

Tanpa ilmu, iman dan akhlak, mereka bukan saja tidak bisa diluruskan,

bahkan mereka pula membengkokkan.

Lebih banyak lelaki yang dirusakkan oleh kaum perempuan…daripada

perempuan yang dirusak oleh laki-laki…

Sebodoh-bodoh perempuanpun bisa menundukkan sepandai-pandainya lelaki.


Itulah akibat apabila wanita tidak kenal Tuhan.

Mereka tidak akan kenal diri mereka sendiri, apalagi mengenal lelaki.

Kini bukan saja banyak boss telah kehilangan secretary, bahkan anakpun

akan kehilangan ibu, suami kehilangan istri

dan bapak akan kehilangan puteri .

Bila wanita durhaka dunia akan huru-hara.

Bila tulang rusuk patah, rusaklah jantung, hati dan limpa.


Para lelaki pula jangan hanya mengharap ketaatan tetapi binalah kepemimpinan.

Pastikan sebelum memimpin wanita menuju Allah, pimpinlah diri sendiri

dahulu kepada-Nya.

Jinakkan diri dengan Allah, niscaya jinaklah segala-galanya dibawah pimpinan kita.

Jangan mengharap istri seperti Siti Fatimah,

Kalau pribadi belum lagi seperti Sayidina Ali.

(ps. Mohon maaf saya belum berhasil menemukan sumber asli, dan penulis asli dari tulisan indah ini….

semoga hikmah, keberkahan dan aliran pahala senantiasa mengalir kepada sang penulis… karena maknanya yang cukup dalam…. )
http://goo.gl/Pnnq6
Continue reading →
Wednesday, July 11, 2012

[Kisah] Papa, Mama, Aldo Tunggu Di Pintu Surga

0 comments
 ~ Bismillahir Rahmaanir Rahiim ~

Fany (bukan nama sebenarnya) adalah sosok wanita Katolik taat. Setiap malam, ia beserta keluarganya rutin berdoa bersama.

Ketegasan prinsip Katolik yang dipegang wanita itu menggoyahkan Iman Sutiono (bukan nama sebenarnya ) yang muslim, namun jarang melakukan ibadah sebagaimana layaknya orang beragama Islam. Sutiono pun masuk Katolik, sekedar untuk bisa menikahi Fany. Dan mereka pun melaksanakan pernikahan di sebuah gereja di sebuah kota .

Usai menikah, lalu menyelesaikan kuliahnya , Fany beserta sang suami berangkat dan menetap di sebuah kota , meninggalkan asal daerah mereka. Kebahagiaan terasa lengkap menghiasi kehidupan keluarga ini dengan kehadiran tiga makhluk kecil buah hati mereka, yakni: Roni , Maria dan Aldo.

Di lingkungan barunya, Fany terlibat aktif sebagai jemaat Gereja. Demikan pula sang suami. Selain juga aktif di Gereja, Sutiono saat itu menduduki jabatan penting pada perusahaan tempat ia bekerja. .

Karena Ketaatan mereka memegang iman Katolik, pasangan ini bersama beberapa sahabat se-iman, sengaja mengumpulkan dana dari tetangga sekitar yang beragama Katolik. Mereka pun berhasil membeli sebuah rumah yang kemudian digunakan menjadi tempat ibadah (Gereja).

Meski sudah menjadi pemeluk ajaran Katolik, sang suami tak melupakan kedua orangtuanya yang beragama Islam. Sebagai manifestasi bakti dan cinta pasangan ini, mereka memberangkatkan ayahanda dan ibundanya ke Mekkah, untuk menunaikan rukun Islam yang kelima.

Hidup harmonis dan berkecukupan mewarnai sekian waktu hari-hari keluarga ini. Sampai satu ketika, kegelisahan menggoncang keduanya. Syahdan, saat itu, Aldo , putra bungsu yang sangat mereka sayangi jatuh sakit. Panas suhu badan yang tak kunjung reda, membuat mereka segera melarikan nya ke rumah sakit.

Di rumah sakit, usai dilakukan diagnosa, dokter yang menangani saat itu mengatakan bahwa putranya mengalami kelelahan. Akan tetapi sang mama masih saja gelisah dan takut dengan kondisi anak kesayangannya yang tak kunjung membaik.

Saat dipindahkan ke ruangan ICU, Aldo yang masih terkulai lemah, meminta sang ayah, untuk memanggil ibundanya yang tengah berada di luar ruangan. Sang papa pun keluar ruangan untuk memberitahu sang mama ihwal permintaan putra bungsunya itu.

Namun, Fany tak mau masuk ke dalam. Ia hanya mengatakan pada sang papa ”Saya sudah tahu.” Itu saja.

Sang papa merasa heran. Ia pun kembali masuk ke ruangan dengan rasa penasaran yang masih menggelayut dalam benak. Di dalam, Aldo berucap, “Tapi udahlah, tidak apa-apa.. Pah, hidup ini hanya 1 centi. Di sana nggak ada batasnya.”

Sontak, rasa takjub menyergap sang ayah . Ucapan bocah mungil buah hatinya yang tengah terbaring lemah itu sungguh mengejutkan. Nasehat kebaikan keluar dari mulutnya seperti orang dewasa yang mengerti agama.

Hingga sore menjelang, sang anak kembali berujar, “Pah, Aldo mau pulang!”

“Ya, kalau sudah sembuh nanti, kamu boleh pulang sama Papa dan Mama,” jawab sang ayah. “Ngga, saya mau pulang sekarang. Papah, Mamah, Aldo tunggu di pintu surga!” begitu, ucap Aldo setengah memaksa.

Belum hilang keterkejutan sang ayah, tiba-tiba ia mendengar bisikan yang meminta dia untuk membimbing membacakan syahadat kepada anaknya. Ia kaget dan bingung. Tapi perlahan Aldo dituntun sang ayah, membaca syahadat, hingga kedua mata anak bungsunya itu berlinang. Sang ayah memang hafal syahadat, karena sebelumnya adalah seorang Muslim.

Tak lama setelah itu bisikan kedua terdengar, setelah Adzan maghrib sang anak dipanggil sang Pencipta. Sang ayah pasrah ketika putranya menghembuskan nafas terakhirnya.

Tiba jenazah di rumah duka, peristiwa aneh lagi-lagi terjadi. Sang mama yang masih sedih waktu itu seakan melihat alm putranya menghampirinya dan berkata, “Mah saya tidak mau pakai baju jas mau minta dibalut kain putih aja.” Saran dari seorang pelayat Muslim, bahwa itu adalah pertanda Aldo ingin dishalatkan sebagaimana seorang Muslim yang baru meninggal.

Sepeninggal Aldo

Sepeninggal anaknya, sang mama sering berdiam diri. Satu hari, ia mendengar bisikan ghaib tentang rumah dan mobil. Bisikan itu berucap, “Rumah adalah rumah Tuhan dan mobil adalah kendaraan menuju Tuhan.” Pada saat itu juga sang mama langsung teringat ucapan mendiang Aldo semasa TK dulu, ”Mah, Mbok Atik nanti mau saya belikan rumah dan mobil!” Mbok Atik adalah seorang pembantu muslimah yang bertugas merawat Aldo di rumah. Saat itu sang mama menimpali celoteh si bungsu sambil tersenyum, “Kok Mamah ga dikasih?” “Mamah kan nanti punya sendiri” jawab Aldo singkat.

Entah mengapa, setelah mendengar bisikan itu, sang mama meminta suaminya untuk mengecek ongkos haji (pada waktu itu). Setelah dicek, dana yang dibutuhkan Rp. 17.850.000. Dan yang lebih mengherankan, ketika uang duka dibuka, ternyata jumlah totalnya persis senilai Rp 17.850.000, tidak lebih atau kurang sesenpun. Hal ini diartikan sang mama sebagai amanat dari Aldo untuk menghajikan Mbok Atik, wanita yang sehari-hari merawat nya di rumah.

Singkat cerita, di tanah suci, Mekkah, Mbok Atik menghubungi Fany via telepon. Sambil menangis ia menceritakan bahwa di Mekkah ia bertemu Aldo. Si bungsu yang baru saja meninggalkan alam dunia itu berpesan, “Tolong sampaikan kepada mama dan papa ya mbok, kepergian Aldo tak usah terlalu dipikirkan. Aldo sangat bahagia disini. Kalo Mama kangen, berdoa saja.”

Namun, pesan itu tak lantas membuat sang Ibunda tenang. Bahkan sang mama mengalami depresi cukup berat, hingga harus mendapatkan bimbingan dari seorang Psikolog selama 6 bulan.

Satu malam saat tertidur, sang mama dibangunkan oleh suara pria yang berkata, “Buka Alquran surat Yunus!”. Namun, setelah mencari tahu tentang surat Yunus, tak ada seorang pun temannya yang beragama Islam mengerti kandungan makna di dalamnya. Bahkan setelah mendapatkan Alquran dari sepupunya, dan membacanya berulang-ulang pun, Fany tetap tak mendapat jawaban.

“Mau Tuhan apa sih?!” protesnya setengah berteriak, sembari menangis tersungkur ke lantai. Dinginnya lantai membuat hatinya berangsur tenang, dan spontan berucap “Astaghfirullah.” Tak lama kemudian, akhirnya Agnes menemukan jawabannya sendiri di surat Yunus ayat 49: “Katakan tiap-tiap umat mempunyai ajal. Jika datang ajal, maka mereka tidak dapat mengundurkannya dan tidak (pula) mendahulukannya”.

Beberapa kejadian aneh yang dialami sepeninggal Aldo membuat sang mama berusaha mempelajari Islam lewat beberapa buku. Hingga akhirnya wanita penganut Katolik taat ini berkata, “Ya Allah terimalah saya sebagai orang Islam, saya tidak mau di-Islamkan oleh orang lain!”.

Setelah memeluk Islam, Fany secara sembunyi-sembunyi melakukan shalat. Sementara itu, suaminya, masih rajin pergi ke gereja. Setiap kali diajak ke gereja , sang mama selalu menolak dengan berbagai alasan.

Sampai suatu malam, Sang ayah terbangun karena mendengar isak tangis seorang perempuan. Ketika berusaha mencari sumber suara, betapa kagetnya Sutiono saat melihat istri tercintanya, tengah bersujud dengan menggunakan jaket, celana panjang dan syal yang menutupi aurat tubuhnya.

“Lho kok Mamah shalat,” tanya nya . “Maafkan saya, Pah. Saya duluan, Papah saya tinggalkan,” jawab sang mama lirih. Ia pasrah akan segala resiko yang harus ditanggung, bahkan perceraian sekalipun.

Akhirnya sang ayah Kembali ke Islam

Sejak keputusan sang istri memeluk Islam, sang suami seperti berada di persimpangan dan akhirnya kembali kepada Islam. Mereka bersama kedua putranya melalui babak baru sebagai seorang muslim.

Selesai shalat, sang ayah langsung meraih sang istri dan mendekapnya erat. Sambil berderai air mata, ia berucap lirih, “Mah, sekarang Papah sudah masuk Islam.”

Perjalanan panjang yang sungguh mengharu biru. Keluarga ini pun akhirnya memulai babak baru sebagai penganut Muslim yang taat. Hingga kini, esok, dan sampai akhir zaman. Insya Allah.
__________

Semoga kita semua dapat mengambil hikmah dan manfaat atas Kebesaran dan Keagungan sebuah hidayah dari Allah .. bagi sesiapapun hamba-hamba Nya, yang Dia kehendaki ..

Forgiveness Allah,
☆Jazakumullahu khayran wa barakallahu fiikum☆
sumber
Continue reading →

Kewajiban Seorang Suami Terhadap Istri

0 comments

1. Memberikan mahar kepada isteri

“Berikanlah mahar kepada wanita yang kalian nikahi sebagai pemberian dengan penuh kerelaan”.(An-Nisa`:4)

“…berikanlah kepada isteri kalian maharnya dengan sempurna sebagai suatu kewajiban”.(An-Nisa`:24)

“Lihatlah apa yang boleh engkau jadikan mahar dalam pernikahanmu, walaupun hanya cincin dari besi”. (HR. Bukhari-Muslim)

2. Menjadi pelindung dan pemimpin bagi isteri

“Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (isteri), kerana Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dan hartanya”. (Q.S. An-Nisa:34)

3. Berlemah-lembut dalam memperlakukan, mendidik dan memimpin isteri

“Bergaullah kalian dengan para isteri secara patut. Apabila kalian tidak menyukai mereka maka bersabarlah kerana mungkin kalian tidak menyukai sesuatu padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak”. (An-Nisa`: 19)

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhirat, janganlah dia mengganggu tetangganya, dan perlakukanlah wanita dengan baik. Sebab, mereka diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok, dan sesungguhnya bahagian tulang rusuk yang paling bengkok adalah bahagian atasnya. Jika engkau bermaksud meluruskannya, maka engkau akan mematahkannya dan jika engkau membiarkannya, maka ia akan tetap bengkok. Oleh kerana itu, perlakukanlah wanita dengan baik”. (HR. Al-Bukhari Muslim)

4. Memberikan nafkah kepada isteri

“Hendaklah orang yang diberi kelapangan memberikan nafkah sesuai dengan kelapangannya dan barangsiapa disempitkan rezekinya maka hendaklah ia memberi nafkah dari harta yang Allah berikan kepadanya”. (Ath-Thalaq: 7)

“Bertakwalah kepada Allah dalam perihal wanita. Karena sesungguhnya kalian mengambil mereka dengan amanat Allah dan dihalalkan atas kalian kemaluan mereka dengan kalimat Alah. Maka hak mereka atas kalian adalah memberi nafkah dan pakaian kepada mereka dengan cara yang ma’ruf”. (HR. Muslim)

“Engkau beri makan isterimu apabila engkau makan, dan engkau beri pakaian bila engkau berpakaian. Janganlah engkau memukul wajahnya, jangan menjelekkannya, dan jangan memboikotnya (mendiamkannya) kecuali di dalam rumah”. (HR. Abu Dawud)

“Ketahuilah, kalian memiliki hak terhadap isteri-isteri kalian dan mereka pun memiliki hak terhadap kalian. Hak kalian terhadap mereka adalah mereka tidak boleh membiarkan seseorang yang tidak kalian sukai untuk menginjak permadani kalian dan mereka tidak boleh mengizinkan orang yang kalian benci untuk memasuki rumah kalian. Sedangkan hak mereka terhadap kalian adalah kalian berbuat baik terhadap mereka dalam hal pakaian dan makanan mereka”. (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah)

“Seseorang sudah cukup berdosa apabila menyia-nyiakan siapa yang wajib diberinya makan”. (HR. Muslim)

5. Tidak menyebarkan aib isterinya

“Manusia yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah pada hari Kiamat adalah laki-laki yang ‘mendatangi’ isterinya, dan wanita itu pun ‘mendatangi’ suaminya, kemudian ia menyebarkan rahsia isterinya”. (HR. Muslim)

6. Berbuat baik (ma’ruf) dan sabar terhadap isteri

“Dan para isteri mempunyai hak yang seimbang dengan kewajiban mereka menurut cara yang ma’ruf”. (Al-Baqarah: 228)

“Kaum mukmin yang paling sempurna keimanannya ialah yang paling baik akhlaknya, dan sebaik-baiknya kalian ialah yang terbaik kepada isteri-isterinya”. (HR. At-Tirmidzi)

“Islam itu mempunyai tanda dan petunjuk jalan,” dan seterusnya…, di antaranya disebutkan, “Engkau memberi salam kepada keluargamu ketika menemui mereka dan engkau memberi salam kepada suatu kaum ketika melewati mereka. Siapa yang meninggalkan sesuatu dari hal itu, maka dia telah meninggalkan satu bahagian dari Islam. Dan siapa yang meninggalkan semuanya, maka ia telah berpaling dari Islam”. (HR. At-Tirmidzi)

“Barang siapa antara para suami- bersabar atas perilaku buruk dari isterinya, maka Allah akan memberinya pahala seperti yang Allah berikan kepada Ayyub a.s atas kesabarannya menanggung penderitaan. Dan barang siapa antara para isteri bersabar atas perilaku buruk suaminya, maka Allah akan memberinya pahala seperti yang Allah berikan kepada Asiyah, isteri fir’aun”. (HR. Nasa`i dan Ibnu Majah)

7. Membantu isteri untuk taat kepada Allah SWT, menjaganya dari api neraka, dan memberikan pengajaran agama

“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri-diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu….” (At-Tahrim: 6)

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanya tentang kepemimpinannya. Penguasa yang memimpin atas manusia adalah pemimpin dan ia akan ditanya tentang mereka dan seorang pria adalah pemimpin atas keluarganya, dan ia akan ditanya tentang mereka”. (HR. Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi, Abu-Dawud, Ahmad)

“Semoga Allah merahmati seorang pria yang bangun malam untuk solat dan membangunkan isterinya untuk solat. Jika isterinya menolak, maka ia memercikkan air ke wajahnya. Dan semoga Allah merahmati seorang wanita yang bangun malam untuk mengerjakan solat dan membangunkan suaminya untuk solat. Jika suaminya menolak, maka ia memercikkan air ke wajahnya”. (HR. An-Nasa’i)

8. Suami berhak cemburu dan menjaganya

“Wahai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu dan putri-putrimu serta wanita-wanita kaum mukminin, hendaklah mereka mengulurkan jilbab-jilbab mereka di atas tubuh mereka. Yang demikian itu lebih pantas bagi mereka untuk dikenali (sebagai wanita merdeka dan wanita baik-baik) hingga mereka tidak diganggu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Penyayang”. (Al-Ahzab: 59)

“Katakanlah kepada wanita-wanita mukminah: ‘Hendaklah mereka menundukkan sebahagian pandangan mata mereka dan menjaga kemaluan mereka…” (An-Nur: 31)

“… janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali apa yang biasa tampak darinya (tidak mungkin ditutupi). Hendaklah pula mereka menutupkan kerudung mereka di atas leher-leher mereka dan jangan mereka tampakkan perhiasan mereka kecuali di hadapan suami-suami mereka, atau ayah-ayah mereka, atau ayah-ayah suami mereka (ayah mertua), atau di hadapan putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau di hadapan saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka (keponakan laki-laki), atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau di hadapan wanita-wanita mereka..” (An-Nur:31)

Dalam khutbah haji wada’ Rasulullah SAW berpesan kepada umatnya tentang banyak hal. Salah satunya adalah mengenai hidup berumah tangga. Rasulullah SAW berpesan:

“Ingatlah, berilah pesan yang baik terhadap isteri kalian. Sesungguhnya mereka memerlukan perlindunganmu. Sedikitpun kamu jangan berbuat kejam kepada mereka. Janganlah berbuat sesuatu yang melampaui batas kepada mereka, kecuali telah nyata bahawa mereka melakukan kejahatan. Jika memang mereka melakukan kejahatan, janganlah kamu menemui mereka di tempat tidur. Jika engkau telah memisahkan mereka dari tempat tidurmu, mereka masih tidak merasa bersalah, maka pukullah mereka dengan pukulan yang ringan yang tidak melukai. Apabila mereka taat, janganlah berlaku keras terhadap mereka”.

“Ingatlah, sesungguhnya isterimu mempunyai hak terhadap kalian para suami. Hak kalian terhadap isterinya adalah melarang mereka mengizinkan masuk seseorang yang tidak kamu sukai kedalam kamarmu dan tidak mengizinkan masuk orang yang tidak kamu sukai ke dalam rumahmu. Hak mereka atas kamu adalah kamu pergauli mereka dengan cara yang baik, tidak memukul mukanya, tidak boleh menjelek-jelekkannya dan memenuhi segala keperluan mereka terutama makanan dan pakaian serta tidak boleh mendiamkannya kecuali di dalam rumah”. (HR Abu Daud dan At Tirmidzi)

Dalam kesempatan lain Rasulullah saw bersabda, “Ingatlah, orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah orang yang paling baik budi pekertinya. Orang yang paling baik budi pekertinya adalah yang paling baik perlakuannya terhadap isterinya” (HR At Tirmidzi)

“Janganlah seorang mukmin memarahi isterinya ataupun seorang wanita beriman. Jika tidak suka terhadap salah satu sifatnya, maka pasti ada sifat lainnya yang menyenangkan. Dunia ini adalah suatu kesenangan yang sementara, dan sebaik-baik kesenangan di dunia adalah wanita yang solehah” (HR Muslim)


~Mutiara Hati~
Continue reading →

Nasehat-Naseht Pernikahan

0 comments
Nikah itu ibadah…….
Nikah itu suci……….. ingat itu……
Memang nikah itu bisa karena harta, bisa karena
kecantikan, bisa karena keturunan dan bisa karena agama.
Jangan engkau jadikan harta, keturunan maupun kecantikan sebagai alasan…..
karena semua itu akan menyebabkan celaka.
Jadikan agama sebagai alasan….. Engkau akan mendapatkan kebahagiaan.

Tidak dipungkiri bahwa keluarga terbentuk karena cinta….
Namun…… jika cinta engkau jadikan sbg landasan,
maka keluargamu akan rapuh, akan mudah hancur.
Jadikanlah ” ALLAH ” sebagai landasan……
Niscaya engkau akan selamat, Tidak saja dunia, tapi juga akherat…….
Jadikanlah ridho Allah sebagai tujuan……
Niscaya mawaddah, sakinah dan warahmah akan tercapai.

Jangan engkau menginginkan menjadi raja dalam “Istanamu”…..
disambut istri ketika datang dan dilayani segala kebutuhan…….
Jika ini kau lakukan “istanamu” tidak akan langgeng..

Lihatlah manusia ter-agung Muhammad saw….
Beliau tidak marah ketika harus tidur di depan pintu, beralaskan sorban,
karena sang istri tercinta tdk mendengar kedatangannya.

Tetap tersenyum meski tidak mendapatkan makanan
tersaji dihadapannya ketika lapar……..
Menjahit bajunya yang robek……..

Jangan engkau menginginkan menjadi ratu dalam “istanamu”…..
Disayang, dimanja dan dilayani suami……
Terpenuhi apa yang menjadi keinginanmu….
Jika itu engkau lakukan, “istanamu” akan menjadi neraka bagimu

Jangan engkau terlalu cinta kepada istrimu………
Jangan engkau terlalu menuruti istrimu……
Jika itu engkau lakukan akan celaka….
Engkau tidak akan dapat melihat yang hitam dan yang putih,
tidak akan dapat melihat yang benar dan yang salah…..
Lihatlah bagaimana Allah menegur ” Nabi “-mu
tatakala mengharamkan apa yang Allah halalkan hanya karena
menuruti kemauan sang istri.

Tegaslah terhadap istrimu…..
Dengan cintamu, ajaklah dia taat kepada Allah…….
Jangan biarkan dia dengan kehendaknya……
Lihatlah bagaimana istri Nuh dan Luth…..
Di bawah bimbingan manusia pilihan, justru mereka menjadi penentang…..
Istrimu bisa menjadi musuhmu….

Didiklah istrimu…
Jadikanlah dia sebagai Hajar, wanita utama yang loyal terhadap tugas suami, Ibrahim.
Jadikan dia sebagai Maryam, wanita utama yang bisa menjaga kehormatannya……
Jadikan dia sebagai Khadijah, wanita utama yang bisa mendampingi sang
suami Muhammad saw menerima tugas risalah…..

Istrimu adalah tanggung jawabmu….
Jangan kau larang mereka taat kepada Allah…..
Biarkan mereka menjadi wanita shalilah…
Biarkan mereka menjadi hajar atau Maryam….
Jangan kau belenggu mereka dengan egomu…

Jika engkau menjadi istri…
Jangan engkau paksa suamimu menurutimu…
Jangan engkau paksa suamimu melanggar Allah……
Siapkan dirimu untuk menjadi Hajar, yang setia terhadap tugas suami…..
Siapkan dirimu untuk menjadi Maryam, yang bisa menjaga kehormatannya….
Siapkan dirimu untuk menjadi Khadijah, yang bisa yang bisa mendampingi suami menjalankan misi.

Jangan kau usik suamimu dengan rengekanmu….
Jangan kau usik suamimu dengan tangismu….
Jika itu kau lakukan….. Kecintaannya terhadapmu akan
memaksanya menjadi pendurhaka…… jangan……….

Jika engkau menjadi Ayah…..

Jadilah Ayah yang bijak seperti Lukmanul Hakim
Jadilah Ayah yang tegas seperti Ibrahim
Jadilah Ayah yang kasih seperti Muhammad saw
Ajaklah anak-anakmu mengenal Allah……….
Ajaklah mereka taat kepada Allah…….
Jadikan dia sebagai Yusuf yang berbakti…….
Jadikan dia sebagai Ismail yang taat…….
Jangan engkau jadikan mereka sebagai Kan’an yang durhaka.

Mohonlah kepada Allah……….
Mintalah kepada Allah, agar mereka menjadi anak yang shalih…..
Anak yang bisa membawa kebahagiaan.

Jika engkau menjadi ibu….

Jadilah engkau ibu yang bijak, ibu yang teduh….
Bimbinglah anak-anakmu dengan air susumu….
Jadikanlah mereka mujahid………
Jadikanlah mereka tentara-tentara Allah…..
Jangan biarkan mereka bermanja-manja…..

Aamin…. :)
http://goo.gl/vy9o0

Continue reading →
Saturday, July 7, 2012

Doa Cinta Sang Pengantin

0 comments
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh...
بِسْــــــــــــــــــــــمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Ya Allah,
Andai Kau berkenan, limpahkanlah rasa cinta kepada kami,
Yang Kau jadikan pengikat rindu Rasulullah dan Khadijah Al Qubro
Yang Kau jadikan mata air kasih sayang Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az Zahra
Yang Kau jadikan penghias keluarga Nabi-Mu yang suci.

Ya Allah,
Andai semua itu tak layak bagi kami,
Maka cukupkanlah permohonan kami dengan ridho-Mu
Jadikanlah kami Suami dan Istri yang saling mencintai di kala dekat,
Saling menjaga kehormatan dikala jauh,
Saling menghibur dikala duka,
Saling mengingatkan dikala bahagia,
Saling mendoakan dalam kebaikan dan ketaqwaan,
Serta saling menyempurnakan dalam peribadatan

Ya Allah, Sempurnakanlah kebahagiaan kami
Dengan menjadikan perkawinan kami ini sebagai ibadah kepada-Mu
Dan bukti ketaatan kami kepada sunnah Rasul-Mu. Aamiiin...


Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.....
Continue reading →
Friday, July 6, 2012

Noda-noda yang Mengotori CInta

0 comments
Emas yang ada didalam tanah umumnya bercampur dengan banyaknya kotoran. Sedangkan Cinta adalah “emas” nya jiwa. Dalam kehidupan sehari-hari terkadang dia tak luput bercampur dengan beberapa noda. Dan kita sendirilah yang sering mencampur Cinta dengan berbagai emosi lain yang kemudian menyebabkan hilangnya cinta, atau paling tidak merusaknya.

Mulanya kita ingin membedakan antara rasa cinta dan beberapa emosi lain yang bercampur dengannya.Cinta kadang bercampur dengan rasa memiliki. Ketika seseorang berkata ,’Aku cinta barang ini,’ sebenarnya ia berbicara tentang kecendrungan nya memiliki barang tersebut. Padahal Cinta adalah satu hal , dan rasa kepemilikan adalah hal lain pula. Betapa celakanya jika cinta telah memasuki lingkaran kekuasaan dan kepemilikan.

Kadang orang memperlakukan orang yang dicintainya seperti sesuatu yang dimilikinya.Padahal manusia tidak pantas untuk dimiliki. Dan kebanyakan orang yang berinteraksi dengan cintadengan memandangnya dari sudut kepemilikan – kisah cinta mereka berakhir dengan hancur dan layu.

Manusia adalah makhluk bebas. Pemilik manusia satu-satunya adalah Allah. Ketika seseorang memahami realita tersebut dan kebenaran penghambaannya hanya untuk Allah, ia bebas dan mendapatkan kebebasan. Jika manusia hanyalah milik Allah, bagaimana orang yang mencintainya dapat memperlakukannya seperti miliknya sendiri? Begitulah rasa memiliki itu merusak cinta

Seseorang kadang bertindak semaunya terhadap sesuatu yang dimilikinya, bahkan kadang ia bertindak yang tidak disenangi oleh masyarakat sekitar dan orang lain.Memang seseorang bebas sama sekali. Akan tetapi kebebasan terhadap sesuatu ini hendaknya tidak merambah kepada orang lain. Karena manusia bukanlah suatu barang. Dan keluarnya seseorang dari suatu kebendaan banyak tidak diketahui oleh para pencinta.

Cinta juga kadang bercampur dengan keinginan. Padahal keinginan dan Cinta adalah dua hal yang berbeda. Keinginan akan berhenti manakala sudah mendapat kepuasan. Sedangkan Cinta , ketika menemukan kepuasan , akan semakin bertambah dan berakar ketanah untuk kemudian membuahkan hasilnya.

Kita sendiri kadang menyebutkan keinginan kita dengan Cinta. Kita berimajinasi di depan Cinta ketika kita menginginkan sesuatu. Mungkin karena hal tersebut adalah baru. Atau mungkin karena ia Tidak ada didepan kita atau karena mungkin senang dengan adanya perubahan. Semua itu bukanlah cinta dan tidak dapat dikategorikan sebagai Cinta.

Cinta juga kadang bercampur dengan Egoisme. Mungkin egoisme inilah noda yang sulit dibersihkan dari Cinta. Dan ia kadang mengambil bentuk mencengangkan dalam sebuah cinta.Ketika mencintai kita berusaha membentuk sang kekasih dengan bentuk kita, atau berusaha memaksanya menjadi bentuk lain dari diri kita sendiri. Usaha tersebut merupakan batu karang yang kadang membentur cinta dalam kisah kehidupan.

Masing-masing kita adalah sebuah eksistensi yang berdiri sendiri dan dunia yang berbeda dari yang lainnya . Benar , kita kadang mirip dalam bentuk penciptaan.Masing-masing kita memiliki dua mata, hidung, muka , hati dan sepasang paru-paru. Tapi keserupaan dalam manusia tersebut , pada saat yang sama mengakibatkan perbedaan yang mendalam. Tidak ada orang yang menyerupai orang lain, baik watak, tabiat, kepribadian , kemampuan akal maupun potensi.

Ketika seseorang mencintai orang lain kemudian mengawininya, ia berusaha menemukan pada dirinya bagian dari tabiatnya dan berbagai bentuk persamaan lain. Dan ini semua adalah normal.Adapun hal yang tidak normal adalah lari mengingkari perbedaan kepribadian. Yang berbahaya adalah berusaha mengubah kepribadian dia tersebut menjadi seperti kepribadian kita.

Usaha ini kadang berakhir dengan salah seorang dari pasangan suami istri menghancurkan pasangannya dan tidak mengembalikannya kepada bentuknya semula. Menghancurkan memang hal mudah, tapi membangun kembali adalah hal yang sulit. Apalagi jika dibangun dengan paksaan, kekuasaan dan represif.

Cinta yang telah matang adalah yang melepaskan kepribadian pasangannya berkembang dan tumbuh, meskipun berlainan dengan kepribadian kita. Sedangkan orang-orang yang hanya mencintai dirinya sendiri dan menghendaki kekasihnya agar menjadi seperti mereka adalah cermin dari cinta yang kurang matang.Wallahualam bishawab.

Continue reading →
Thursday, July 5, 2012

Anehnya Orang yang Jatuh Cinta

0 comments
Orang-orang yang jatuh-cinta terkadang terbelenggu oleh ilusi yang diciptakan oleh hatinya sendiri. Ia tak kuasa lagi membedakan mana yang benar-benar nyata, mana yang hasil kreasi hatinya yang sedang memendam rindu.

Kejadian-kejadian kecil, cukup sudah untuk membuatnya senang. Merasa seolah-olah itu kabar baik…. Padahal saat ia tahu kalau itu hanya bualan perasaannya, maka saat itulah hatinya akan hancur berkeping-keping. Patah-hati! Menuduh seseorang itu mempermainkan dirinya. Lah? Siapa yang mempermainkan siapa, coba? :D
Continue reading →
Wednesday, July 4, 2012

Ketika Cinta Menghampiri Diri

0 comments
Allahu Rabbul Izzati…
Jika Cinta kan menghampiri diri
Jangan biarkan Cinta kepada-Mu hilang di hati..
Perkenankanlah selalu tuk selalu Mencintai-Mu..
Sepenuh hati dan Ketulusan diri

Allahu Rabbul Izzati…
Hanya kepada-Mu Cinta Hakiki
Cinta yang mengantarkan Keindahan sesungguhnya…
Cinta dengan kebersihan jiwa hati..
Cinta untuk mendapatkan Keridhoan-Mu

Allahu Rabbul Izzati…
Cinta itu pasti kan datang menghampiri diri
Berikanlah Cinta kepada seorang insan mulia..
Yang didalam dirinya selalu ada keinginan..
Keinginan dengan tujuan Keridhoan-Mu
Itulah Bidadari Surga Dunia..

Bidadari Surga Dunia..
Berhiaskan Iman dan Taqwa
Wajah indah berseri..
Karena air wudhu keseharian dirinya.

Bidadari Surga Dunia..
Idaman semua wanita sholihah
Cerminan seorang berhati mulia
Yang selalu terpatri dalam dirinya..

Bidadari Surga Dunia..
Ada cahaya yang terpancar di wajah
Menerangi dunia dengan sinar yang menyilaukan
Karena Kemulian dan Keindahan dirinya……

Bidadari Surga Dunia..
Dengan rona merah di wajah
Dengan Senyum semanis madu
Yang selalu menghiasi kecantikannya…

Bidadari Surga Dunia..
Akhlaqul karimah perhiasan dunia
Ilmu sebagai jalan menuju surga..
Dunia menjadi ladang akhirat bagi dirinya
Untuk mencapai Cinta Allah Ta’ala…

Allahu Rabbul Izzati…
Dalam dunia yang merana…
Dunia yang nantinya kan binasa
Dunia kerakusan dan keserakahan manusia..
Dapatkah bertemu dengan dirinya..
Mencintai seorang Bidadari Surga Dunia…
Mencintai karena untuk mendapatkan Keridhoan-Mu

Allahumma Rabbanaa Aamiin….
Continue reading →

Surat Cinta untukmu Akhi

1 comments

بِسْــــــــــــــــــمِ-اﷲِالرَّحْمَنِ-اارَّحِيم
السلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Malam telah larut terbentang. Sunyi. Dan aku masih berfikir tentang dirimu, akhi. Jangan salah sangka ataupun menaruh prasangka. Semua semata-mata hanya untuk muhasabah terutama bagi diriku, makhluk yang Rasulullah SAW sinyalirkan sebagai pembawa fitnah terbesar.—Suratmu sudah kubaca dan disimpan. Surat yang membuatku gementar. Tentunya kau sudah tahu apa yang membuatku nyaris tidak boleh tidur kebelakangan ini.

“Ukhti, saya sering memperhatikan anti. Kalau sekiranya tidak dianggap lancang, saya berniat berta’aruf dengan anti.”

Jujur kukatakan bahwa itu bukan perkataan pertama yang dilontarkan ikhwan kepadaku. Kau orang yang kesekian. Tetap saja yang ‘kesekian’ itu yang membuatku diamuk perasaan tidak menentu. Astaghfirullahaladzim. Bukan, bukan perasaan melambung kerana merasakan diriku begitu mendapat perhatian. Tetapi kerana sikapmu itu mencampak ke arah jurang kepedihan dan kehinaan. ‘Afwan kalau yang terfikir pertama kali di benak bukannya sikap memeriksa, tapi malah sebuah tuduhan: ke mana ghaddhul bashar-mu?

Akhifillah, Alhamdulillah Allah mengaruniakan dzahir yang jaamilah. Dulu, di masa jahiliyah, karunia itu sentiasa membawa fitnah. Setelah hijrah, kufikir semua hal itu tidak akan berulang lagi. Dugaanku ternyata salah. Mengapa fitnah ini justeru menimpa orang-orang yang ku hormati sebagai pengemban risalah da’wah ? Siapakah di antara kita yang salah?

***********

“Adakah saya kurang menjaga hijab, ukh?” tanyaku kepada Aida, teman sebilikku yang sedang mengamati diriku. Lama. Kemudian, dia menggeleng.

“Atau baju saya? Sikap saya?”—“Tidak, tidak,” sergahnya menenangkanku yang mulai berurai air mata.

“Memang ada perubahan sikap di kampus ini.”

“Termasuk diri saya?”

“Jangan menyalahkan diri sendiri meskipun itu bagus, senantiasa merasa kurang iman. Tapi tidak dalam hal ini. Saya cukup lama mengenali anti dan di antara kita telah terjalin komitmen untuk saling memberi tausiyah jika ada yang lemah iman atau salah. Ingat?”

Aku mengangguk. Aida menghela nafas panjang.

“Saya rasa ikhwan itu perlu diberi tausiyah. Hal ini bukan perkara baru kan ? Maksud saya dalam meng-cam akhwat di kampus.” Sepi mengembang di antara kami. Sibuk dengan fikiran masing-masing… .

“Apa yang diungkapkan dalam surat itu?”

“Ia ingin berta’aruf. Katanya dia sering melihat saya memakai jilbab putih. Anti tahu bila dia bertekad untuk menulis surat ini? Ketika saya sedang menjemur pakaian di depan rumah ! Masya Allah…. dia melihat sedetail itu.”

“Ya.. di samping itu tempoh masa anti keluar juga tinggi.”

“Ukhti…,” sanggahku, “Anti percaya kan kalau saya keluar rumah pasti untuk tujuan syar’ie?”

“InsyaAllah saya percaya. Tapi bagi anggapan orang luar, itu masalah yang lain.”

Aku hanya mampu terdiam. Masalah ini senantiasa hadir tanpa ada suatu penyelesaian. Jauh dalam hati selalu tercetus keinginan, keinginan yang hadir semenjak aku hijrah bahwa jika suatu saat ada orang yang memintaku untuk mendampingi hidupnya, maka hal itu hanya dia lakukan untuk mencari keridhaan Rabb-nya dan dien-ku sebagai tolok ukur, bukan wajahku. Kini aku mulai risau mungkinkah harapanku akan tercapai?

************

Akhifillah, Maaf kalau saya menimbulkan fitnah dalam hidupmu. Namun semua bukan keinginanku untuk beroleh wajah seperti ini. Seharusnya di antara kita ada tabir yang akan membersihkan hati dari penyakitnya. Telah ku coba dengan segenap kemampuan untuk menghindarkan mata dari bahaya maksiat. Alhamdulillah hingga kini belum hadir sosok putera impian yang hadir dalam angan-angan. Semua ku serahkan kepada Allah ta’ala semata.
Akhi, Tentunya antum pernah mendengar hadits yang tersohor ini. Bahwa wanita dinikahi kerana empat perkara: kecantikannya, hartanya, keturunannya, atau diennya. Maka pilihlah yang terakhir kerana ia akan membawa lelaki kepada kebahagiaan yang hakiki.

Kalaulah ada yang mendapat keempat-empatnya, ibarat ia mendapat syurga dunia. Sekarang, apakah yang antum inginkan? Wanita shalihah pembawa kedamaian atau yang cantik tapi membawa kesialan? Maaf kalau di sini saya terpaksa berburuk sangka bahwa antum menilai saya cuma sekadar fisik belaka. Bila masanya antum tahu bahwa dien saya memenuhi kriteria yang bagus? Apakah dengan melihat frekuensi kesibukan saya? Frekuensi di luar rumah yang tinggi?

Tidak. Antum tidak akan pernah tahu bila masanya saya berbuat ikhlas lillahi ta’ala dan bila masanya saya berbuat kerana riya’. Atau adakah antum ingin mendapatkan isteri wanita cantik yang memiliki segudang prestasi tetapi akhlaknya masih menjadi persoalan? Saya yakin sekiranya antum diberikan pertanyaan demikian, niscaya tekad antum akan berubah.

Akhifillah, Tanyakan pada setiap akhwat kalau antum mampu. Yang tercantik sekalipun, maukah ia diperisterikan seseorang kerana dzahirnya belaka? Jawabannya, insya Allah tidak. Tahukah antum bahwa kecantikan zahir itu adalah mutlak pemberian Allah; Insya Allah antum tahu. Ia satu anugerah yang mutlak yang tidak boleh ditawar-tawar jika diberikan kepada seseorang atau dihindarkan dari seseorang. Jadi, manusia tidak mendapatkannya melalui pengorbanan. Lain halnya dengan kecantikan bathiniyyah. Ia melewati proses yang panjang. Berliku. Melalui pengorbanan dan segala macam pengalaman pahit. Ia adalah intisari dari manisnya kata, sikap, tindak tanduk dan perbuatan. Apabila seorang lelaki menikah wanita kerana kecantikan batinnya, maka ia telah amat sangat menghargai perjuangan seorang manusia dalam mencapai kemuliaan jati dirinya. Faham?

Akhifillah, Tubuh ini hanya pinjaman yang terpulang pada-Nya bila-bila masa mengambilnya. Tapi ruh, kecantikannya menjadi milik kita yang abadi. Kerananya, manusia diperintahkan untuk merawat ruhiyahnya bukan hanya jasmaninya yang boleh usang dan koyak sampai waktunya.

Akhifillah, Kalau antum ingin mencari akhwat yang cantik, antum juga seharusnya menilai pihak yang lain. Mungkin antum tidak memerhatikannya dengan teliti. (Alhamdulillah, tercapai maksudnya untuk keluar rumah tanpa menimbulkan perhatian orang). Pakaiannya sederhana, ia hanya memiliki beberapa helai. Dalam waktu seminggu antum akan menjumpainya dalam jubah-jubah yang tidak banyak koleksinya. Tempoh masanya untuk keluar rumah tidak lama. Ia lebih suka memasak dan mengurus rumah demi membantu kepentingan saudari-saudarinya yang sibuk da’wah di luar. Ia nyaris tidak mempunyai keistimewaan apa-apa kecuali kalau antum sudah melihat shalatnya. Ia begitu khusyu’. Malam-malamnya dihiasi tahajjud dengan uraian air mata. Dibaca Qur’an dengan terisak. Ia begitu tawadhu’ dan zuhud. Ah, saya iri akan kedekatan dirinya dengan Allah. Benar, ia mengenal Rabbnya lebih dari saya. Dalam ketenangannya, ia tampak begitu cantik di mata saya. Beruntung ikhwan yang kelak memperisterikannya… (saya tidak perlu menyebut namanya.)

**********

Malam semakin beranjak. Kantuk yang menghantar ke alam tidur tidak menyerang saat surat panjang ini belum usai. Tapi, sudah menjadi kebiasaanku tidak boleh tidur tenang bila saudaraku tercinta tidak hadir menemani. Aku tergugat apabila merasakan bantal dan guling di samping kanan telah kehilangan pemilik. Rasa penat yang belum ternetral menyebabkan tubuhku terhempas di sofa.

Aida sedang diam dalam kekhusyu’kan. Wajahnya begitu syahdu, tertutup oleh deraian air mata. Entah apa yang terlintas dalam qalbunya. Sudah pasti ia merasakan aku tidak heran saat menyaksikannya. Tegak dalam rakaatnya atau lama dalam sujudnya.

“Ukhti, tidak solat malam? “ tanyanya lembut seusai melirik mata.

“Ya, sekejap,” kupandang wajahnya. Ia menatap jauh keluar jendela ruang tamu yang dibiarkan terbuka. “Dzikrul maut lagi?”

“Khusnudzan anti terlalu tinggi.”

Aku tersenyum. Sikap tawadhu’mu, Aida, menyebabkan bertambah rasa rendah diriku. Angin malam berhembus dingin. Aku belum mau beranjak dari tempat duduk. Aida pun nampaknya tidak meneruskan shalat. Ia kelihatan seperti termenung menekuri kegelapan malam yang kelam.

“Saya malu kepada Allah,” ujarnya lirih.

“Saya malu meminta sesuatu yang sebenarnya tidak patut tapi rasanya keinginan itu begitu mendesak dada. Siapa lagi tempat kita meminta kalau bukan diri-Nya?”

“Apa keinginan anti, Aida?”

Aida menghela nafas panjang.

“Saya membaca buku Syeikh Abdullah Azzam pagi tadi,” lanjutnya seolah tidak menghiraukan. “Entahlah, tapi setiap kali membaca hasil karyanya, selalu hadir simpati tersendiri. Hal yang sama saya rasakan tiap kali mendengar nama Hasan al-Banna, Sayyid Quthb atau mujahid lain saat nama mereka disebut. Ah, wanita macam mana yang dipilihkan Allah untuk mereka? Tiap kali nama Imaad Aql disebut, saya bertanya dalam hati: Wanita macam mana yang telah Allah pilih untuk melahirkannya?”

Aku tertunduk dalam-dalam.

“Anti tahu,” sambungnya lagi, “Saya ingin sekiranya boleh mendampingi orang-orang sekaliber mereka. Seorang yang hidupnya semata-mata untuk Allah. Mereka tak tergoda rayuan harta dan benda apalagi wanita. Saya ingin sekiranya boleh menjadi seorang ibu bagi mujahid-mujahid semacam Immad Aql…”

Air mataku menitis perlahan. Itu adalah impianku juga, impian yang kini mulai kuragui kenyataannya. Aida tak tahu berapa jumlah ikhwan yang telah menaruh hati padaku. Dan rasanya hal itu tak berguna diketahui. Dulu, ada sebongkah harapan kalau kelak lelaki yang mendampingiku adalah seorang mujahid yang hidupnya ikhlas kerana Allah. Aku tak menyalahkan mereka yang menginginkan isteri yang cantik. Tidak. Hanya setiap kali bercermin, ku tatap wajah di sana dengan perasaan duka. Serendah inikah nilaiku di mata mereka? Tidakkah mereka ingin menilaiku dari sudut kebagusan dien-ku?

“Ukhti, masih tersisakah ikhwah seperti yang kita impikan bersama?” desisku.

Aida meramas tanganku. “Saya tidak tahu. Meskipun saya sentiasa berharap demikian. Bukankah wanita baik untuk lelaki baik dan yang buruk untuk yang buruk juga?”

“Anti tak tahu,” air mata mengalir tiba-tiba. “Anti tak tahu apa-apa tentang mereka.”

“Mereka?”

“Ya, mereka,” ujarku dengan kemarahan terpendam. “Orang-orang yang saya kagumi selama ini banyak yang jatuh berguguran. Mereka menyatakan ingin ta’aruf. Anti tak tahu betapa hancur hati saya menyaksikan ikhwan yang qowiy seperti mereka takluk di bawah fitnah wanita.”

“Ukhti!”

“Sungguh, saya terfikir bahwa mereka yang aktif da’wah di kampus adalah mereka yang benar-benar mencintai Allah dan Rasulnya semata. Ternyata mereka mempunyai sekelumit niat lain.”

“Ukhti, jangan su’udzan dulu. Setiap manusia punya kelemahan dan saat-saat penurunan iman. Begitu juga mereka yang menyatakan perasaan kepada anti. Siapa yang tidak ingin punya isteri cantik dan shalihah?”

“Tapi, kita tahukan bagaimana prosedurnya?”

“Ya, memang…”

“Saya merasa tidak dihargai. Saya berasa seolah-olah dilecehkan. Kalau ada pelecehan seksual, maka itu wajar kerana wanita tidak menjaga diri. Tapi saya…. Samakah saya seperti mereka?”

“Anti berprasangka terlalu jauh.”

“Tidak,” aku menggelengkan kepala. “Tiap kali saya keluar rumah, ada sepasang mata yang mengawasi dan siap menilai saya mulai dari ujung rambut -maksud saya ujung jilbab- hingga ujung sepatu. Apakah dia fikir saya boleh dinilai melalui nilaian fisik belaka..”

“Kita berharap agar ia bukan jenis ikhwan seperti yang kita maksudkan.”

“Ia orang yang aktif berda’wah di kampus ini, ukh.”

Aida memejamkan mata. Bisa kulihat ujung matanya basah. Kurebahkan kepala ke bahunya. Ada suara lirih yang terucap,

“Kasihan risalah Islam. Ia diemban oleh orang-orang seperti kita. Sedang kita tahu betapa berat perjuangan pendahulu kita dalam menegakkannya. Kita disibukkan oleh hal-hal sampingan yang sebenarnya telah diatur Allah dalam kitab-Nya. Kita tidak menyibukkan diri dalam mencari hidayah. Kasihan bocah-bocah Palestin itu. Kasihan saudara-saudara kita di Bosnia . Adakah kita boleh menolong mereka kalau kualitas diri masih seperti ini? Bahkan cinta yang seharusnya milik Allah masih berpecah-pecah. Maka, kekuatan apa yang masih ada pada diri kita?”

Kami saling bertatapan kemudian. Melangkau seribu makna yang tidak mampu dikatakan oleh kosa kata. Ada janji. Ada mimpi. Aku mempunyai impian yang sama seperti Aida: mendukung Islam di jalan kami. Aku ingin mempunyai anak-anak seperti Asma punyai. Anak-anak seperti Immad Aql. Aku tahu kualiti diri masih sangat jauh dari sempurna. Tapi seperti kata Aida; Meskipun aku lebih malu lagi untuk meminta ini kepada-Nya. Aku ingin menjadi pendamping seorang mujahid ulung seperti Izzuddin al-Qassam.

Akhifillah, Mungkin antum tertawa membaca surat ini. Ah akhwat, berapa nilaimu sehingga mengimpikan mendapat mujahid seperti mereka? Boleh jadi tuntutanku terlalu besar. Tapi tidakkah antum ingin mendapat jodoh yang setimpal? Afwan kalau surat antum tidak saya layani. Saya tidak ingin masalah hati ini berlarutan. Satu saja yang saya minta agar kita saling menjaga sebagai saudara. Menjaga saudaranya agar tetap di jalan yang diridhai-Nya. Tahukah antum bahwa tindakan antum telah menyebabkan saya tidak lagi berada di jalan-Nya? Ada riya’, ada su’udzhan, ada takabur, ada kemarahan, ada kebencian, itukah jalan yang antum bukakan untuk saya, jalan neraka? –‘Afwan.

Akhifillah, Surat ini seolah menempatkan antum sebagai tertuduh. Saya sama sekali tidak bermaksud demikian. Kalau antum mahu cara seperti itu, silakan. Afwan, tapi bukan saya orangnya. Jangan antum kira kecantikan lahir telah menjadikan saya merasa memiliki segalanya. Jesteru, kini saya merasa iri pada saudari saya. Ia begitu sederhana. Tapi akhlaknya bak lantera yang menerangi langkah-langkahnya. Ia jauh dari fitnah. Sementara itu, apa yang saya punyai sangat jauh nilainya. Saya bimbang apabila suatu saat ia berhasil mendapatkan Abdullah Azzam impiannya, sedangkan saya tidak.

Akhifillah, ‘Afwan kalau saya menimbulkan fitnah bagi antum. Insya Allah saya akan lebih memperbaiki diri. Mungkin semua ini sebagai peringatan Allah bahwa masih banyak amalan saya yang riya’ maupun tidak ikhlas. Wallahua’lam. Simpan saja cinta antum untuk isteri yang telah dipilihkan Allah. Penuhilah impian ratusan akhwat, ribuan ummat yang mendambakan Abdullah Azzam dan Izzuddin al-Qassam yang lain. Penuhilah harapan Islam yang ingin generasi tangguh seperti Imaad Aql. Insya Allah antum akan mendapat pasangan yang bakal membawa hingga ke pintu jannah.

Akhifillah, Malam bertambah-dan bertambah larut. Mari kita shalat malam dan memandikan wajah serta mata kita dengan air mata. Mari kita sucikan hati dengan taubat nasuha. Pesan saya, siapkan diri antum menjadi mujahid. Insya Allah, akan ada ratusan Asma dan Aisyah yang akan menyambut uluran tangan antum untuk berjihad bersama-sama.

~ o ~
Continue reading →